Wednesday, January 18, 2017

Will Life Getting Easier?

Nope. Never.
Hal yang saya tahu selama 23 tahun saya menjalani hidup ini. Life is never getting easier. Selalu aja ada masalah kehidupan yang akan datang. Kalau saya lihat kebelakang selama 23 tahun saya menjalani hidup ini, ternyata permasalahan hidup yang dulu saya pikir berat banget dan saya sempat berpikir "Bisa ngga ya, saya menjalani hal ini?" bahkan ngga ada apa-apanya dengan permasalahan hidup saat ini. Tapi, ada beberapa poin yang saya pelajari selama 23 tahun saya menjalani hidup ini.


  1. Happiness is state of mind. That 'soto' around the corner might be tasty and it makes you happy. That package that you sent yesterday to yourself makes you happy. Ranting about your whole problem to the right person at 2 am makes you happy. Laying in bed while watching Orange Is The New Black turns out....makes you happy.
  2. You can be single and still feels heartbreak.
  3. Mom is always right. Seriusan deh. Ini penting. Bahkan ketika saya keukeuh dengan hal yang pikir hal itu benar. Ternyata ujung-ujungnya ibu saya yang betul. Saya ingat waktu kelas 10, saya ikut organisasi Pecinta Alam. Suatu hari, organisasi saya mengadakan pelantikan anggota di gunung. Kebayang dong kayak apa suasana mendaki gunung. Waktu itu saya berikan proposalnya ke ibu saya dan beliau langsung menolak mentah-mentah saya untuk ikut kegiatan tersebut. Saya keukeuh saya bilang saya betul-betul suka dengan organisasi saya tersebut dan saya (pikir) saya bisa menjadi pecinta alam. Sampai akhirnya, saya betul-betul ngga ikut organisasi tersebut dan beberapa tahun kemudian saya baru sadar saya juga bahkan ngga cinta-cinta amat sama alam :p
  4. Family will always got your back. Ingat-ingat kapan terakhir kali gaji saya cepat habis atau keputusan-keputusan bodoh yang saya ambil, keluarga saya selalu ada di belakang saya untuk mendukung keputusan-keputusan bodoh saya yang lainnya.
  5. Teman ngga perlu banyak-banyak. Yang penting selalu ada 24x7, selalu bisa mendukung di tengah keputusan-keputusan aneh saya yang questionable, sama jalan pikiran dan bisa menginspirasi.
Lets be tougher, stronger and better this year. Maybe take things and pressure easy this year?

Friday, January 13, 2017

Adult-ing

Sulit. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan bagimana menjadi orang dewasa. Walaupun sebenarnya saya belum benar-benar memiliki banyak tanggung jawab. Tapi, percayalah dengan tanggung jawab seperti sekarang saja sudah cukup berat. Salah satu hal yang membuat saya merasa dunia dewasa adalah berat, sebenarnya menurut saya karena transisi dari anak kuliahan ke orang dewasa. Dari yang kuliah jadwalnya saya yang menentukan, bangun siang, ketemu dosen kalau lagi mood, baru bisa tidur jam 5 pagi, kalau dipikir sekarang ingin rasanya kembali ke masa itu.

Sayangnya, berlama-lama kuliah juga tidak menyelesaikan masalah. Memperlambat masa studi juga bukan masa jaminan akan bisa lebih matang dan sukses ketika di dunia kerja. Yang ada malah jadi ketuaan ketika melamar kerja. Karena di dunia kerja banyak yang lebih muda dan lebih pintar. Nah lho.

Banyak sekali hal-hal yang sulit yang saya temui ketika di dunia dewasa ini. Mengatur uang, mengatur waktu supaya bisa santai di weekend (penting dong :p), pertemanan, karir, dan jodoh. Ternyata hal-hal yang saya kira saya suka bahkan saya baru sadar bahwa saya tidak suka. Payahnya, mungkin dulu saya tau saya tidak suka tapi saya belum berani men-declare saya tidak suka. Kalau sekarang, akhirnya saya lebih berani untuk tidak melakukan hal yang tidak suka karena prinsip saya don't waste time for something that you don't like.

Sayangnya terkadang saya masih sering bingung apa saya tidak suka sesuatu memang saya bosan atau memang sudah dari sananya saya tidak suka. Apapun alasan di balik itu, intinya saya sering sekali menemukan sesuatu yang ternyata saya tidak suka (yucks!). Bukan cuma menyadari hal yang tidak saya suka. Di usia saya yang 23 ini, akhirnya saya menyadari bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa kita dapatkan walaupun kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Seperti perasaan orang lain ataupun pekerjaan. Rasa pesimis mulai menjangkiti diri saya, quotes-quotes mulai saya anggap bullshit, tapi kehidupan positif masih berusaha saya pegang.

Sulit memang menjadi dewasa, mudah-mudahan saya bisa semakin tegar menjadi kehidupan dewasa ini hehe ibu saya masih menjadi inspirasi buat saya pokoknya.


Here is to the strong women
may we know them,
may we be them,
may we raise them.

Cheers,


Ayu Dewi Handayani


Wednesday, January 11, 2017

23 Hal yang Perlu Disyukuri

Alhamdulillah saya sekarang sudah 23 tahun yaaay! The perks of ulang tahun ketika akhir tahun adalah mulai tahun baru jadi bisa ngeset goal sekalian untuk tahun ke depannya. Tahun kemarin rasanya saya sering ngeluh (siapa sih yang engga?) Tapi maksudnya ini udah di atas batas normal gitu hehe. Jadi, sekarang saya mau nge-list hal-hal yang perlu disyukuri.

  1. Keluarga. Cannot thankful enough my family still be #1 support system. Hopefully always are and always will. Begitu banyak keluhan yang akhirnya keluarga jadi kena imbasnya dan untungnya keluarga saya masih bisa banget ngasih saya masukan-masukan yang berguna dan selalu ngedukung saya (walau kadang emang salah saya :p)
  2. Teman tersayang. Mesti banget pakai kata tersayang. Saya juga ngga tau sih persahabatan itu sampai kapan batasnya, tapi saya sangat-sangat bersyukur saya punya circle-circle yang positif dan selalu menghibur saya. Dan yang paling penting mendengarkan tanpa menghakimi (penting dong!)
  3. Pekerjaan saat ini. Kalau saya pulang malam kadang saya suka melihat ada abang-abang di stasiun masih jualan, jaga parkir, bawa-bawa dagangan berat. Meskipun saya lelah tapi akhirnya bersyukur punya kerjaan tetap, duduk di AC, dan ketika mereka masih kerja saya sudah tidur-tiduran di kasur.
  4. Popcorn Time dan situs streaming lainnya. God bless all the inventor of this server so i can go streaming and chill. Saya ngga perlu download film dan nunggu lama untuk nonton. This include website langganan download film saya.
  5. Buzzfeed Unsolved Mysteries. Thanks to Ryan Bergara yang membuat saya bisa enjoy makan siang di meja sambil nonton ini. God bless you, man! Salah satu harapan saya di 2017 adalah neverending buzzfeed unsolved mysteries :D
  6. Fun Meme di Instagram. Waktu awal saya buat Instagram purpose saya cuma mau enjoy yang lucu-lucu aja di feed tanpa perlu komen "duh dia hidupnya enak banget sih" dan saya senang banget ketika jam 1 pagi scrolling akun Instagram nochill atau beigecardigan atau daquan dan ada sesuatu yang super lucu dengan sedikit dirty innuendo.
  7. Good deeds di feed Facebook
  8. Ketika tidur terus kebangun jam 2 pagi dikira udah mau Subuh
  9. That soto around the corner
  10. Makan soto sendirian (Solitude is a bliss)
  11. Habis makan soto jajan es krim di Alfamart
  12. Ternyata uangnya masih cukup buat beli Kiyora Matcha Green Tea
  13. Video lucu di feed Facebook dan feel related
  14. Ketemu kucing gendut dan dia mau dielus-elus (Nomnomnom!)
  15. Minta uang ke Ibunda iseng untuk jajan MCD dan dikasih (YAY!)
  16. Prosperity burger setelah 23 tahun :')
  17. Last minute ajak teman untuk main dan dia bisa (!!)
  18. Menemukan artikel bagus di Thought Catalog
  19. Menemukan section astrologi di Thought Catalog
  20. Sabtu siang bisa dengan chill nonton Orange Is The New Black
  21. Ke Malang (it's always fun to be back to Malang)
  22. Di perjalanan menuju main di hari Jum'at (Byeeee worrrk :p)
  23. Dapat tempat duduk di Kereta
Ternyata setelah poin ke-enam saya keburu malas menuliskan panjang-panjang dan akhirnya bisa nge-list banyak hal yang bisa disyukuri. Intinya sebenarnya ada soooooooooooo much things to complain tapi tergantung mindset kita mau membuat itu masalah atau engga. Ya mudah-mudahan aja saya juga masih bisa bersyukur untuk selanjutnya.






With love,


Ayu Dewi Handayani

Friday, October 21, 2016

Membuka Pikiran

Seberapa sering dari kita mendengar ada orang berkata,

"Duh, lo tuh nggak open minded banget sih?"

Coba ingat-ingat apa jangan-jangan malah kita sendiri yang sering ngomong gitu. 
Sebenarnya definisi open minded itu apa?
Ugh,

Apakah open minded itu semua hal yang berbau dengan westernisasi? Harus menerima kaum LGBT sebagai sebuah hal yang normal dalam tatanan masyarakat?
Ataukah,
Open minded itu menerima sebuah budaya Amerika mentah-mentah untuk di aplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, yang memiliki tatanan masyarakat dengan budaya ketimuran dengan segala remeh temeh-nya?

Justru kata "Duh, lo tuh nggak open minded" itu menurut saya sangat konyol. Jadi apa yang kamu maksud dengan open minded? Pikiran saya yang menganggap bahwa orang yang pakai tanktop ke kantor itu nggak sopan dianggap nggak open minded? Orang yang 'bobok' sana sini belum nikah itu nggak sesuai norma dibilang nggak open minded? Jadi apa dong?

Bukankah orang yang sering berkata "Duh, lo tuh nggak open minded" itu justru malah close minded? Karena malah dia yang nggak bisa menerima orang lain berpikiran yang berbeda dengan dia. Kenapa harus memaksakan suatu pemikiran untuk diterima oleh pemikiran orang-orang lainnya? Kalo gitu nggak ada lagi dong yang namanya kaum rebellion

Waktu saya kuliah dulu, saya pernah ada kelas Culture Studies saking pas-pasannya nilai saya, saya mengulang kelas ini dua kali. Di dua kali ini, saya masih juga nggak ngerti secara mendalam dengan mata kuliah ini. Sebenarnya kuliah ini sangat menarik, kelas ini sukses dengan membuat pikiran saya menjadi mindfucked. Tapi, ketegangan dalam kelasnya yang buat saya panas dingin lagi di kelas ini. Masalahnya setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh dosennya nggak bisa dicari di Google. Intinya pusing lah.

Di kelas ini saya ingat betul belajar tentang pop culture, subculture dan menurut saya ini cocok untuk dikaitkan dengan open minded- close minded. Subculture itu seperti grup unik yang terdiri dari sedikit kaum seperti hippies. Atau seperti musik punk sebagai bentuk perlawanan dari musik pop, yang ingin menyatakan bahwa sebuah musik tidak hanya bisa diciptakan oleh nada yang tertatur. Namun, bisa juga dari nada yang berantakan awut-awutan ala anak punk. Nah, sekarang ketika musik punk sudah menjadi umum, atau gaya gaya hippies menjadi populer. Dia bukan bagian dari subculture lagi, melainkan sudah menjadi bagian pop culture
Pada intinya, semua hal yang tadinya nggak umum, ketika banyak orang yang pakai. Hal ini menjadi umum. Begitu logikanya.

Balik lagi ke masalah open minded, close minded. Menurut saya itu sama dengan masalah pop culture, subculture tadi. Ketika si orang yang menggadang-gadang dirinya open minded justru ironinya dialah yang close minded karena nggak bisa menerima bahwa pandangan dan pemikiran orang berbeda-beda. 
Sadarilah kalau pandangan orang itu berbeda-beda. Nggak perlu lah kita mengagung-agungkan pemikiran kita lebih baik dari orang lain. Nggak perlu memaksakan pikiran si A, si B, si C sama dengan kita. Kalau beda, yaudah. Kalau nggak suka, yaudah jauh-jauh aja, kelar.

Intinya, bukalah pikiranmu dengan benar.

Friday, October 7, 2016

Bicara Cinta

Sebenarnya apa sih cinta itu?

Ada yang bilang cinta itu buta,
Kalo menurut KBBI cinta itu,

cinta/cin·ta/ a 1 suka sekali; sayang benar:2 kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan):  3 ingin sekali; berharap sekali; rindu: 4 kl susah hati (khawatir); risau


Saya juga ngga tau sih pastinya definisi cinta itu apa. Tapi,kalau mau simpelnya ya bisa lihat dari definisi di atas. Setelah saya selama dua puluh tahunan ini selalu menghindari topik cinta, akhirnya.....well, sekarang bicara juga tentang cinta.
Kalo menurut saya cinta itu levelnya lebih dahsyat dari sekadar suka. Bisa mengalahkan logika, dan orang bisa gila karena cinta.
Ini emang rada dangdut sih,

Gila karena cinta.

Sepanjang perjalanan saya hidup, saya pernah mendengar ada si A hamil di luar nikah sama pacarnya, atau si B mendadak nikah karena hamil duluan. Saya sempet mikir, walau emang usia saya sudah legal buat nikah dan well......"kawin", sebegitunya ya karena  cinta bisa mengalahkan logika.
Waktu kuliah saya pernah suka dengan seseorang, saya rela berjam-jam ngerjain tugasnya sampai tiba-tiba udah dini hari. Atau tiba-tiba tengah malam diajak nemenin makan. Parahnya orang itu mungkin ngga tau saya suka sama dia, atau dia tau saya suka sama dia makanya minta bantuannya ke saya?
Intinya ketika saya cerita sama temen saya, temen saya selalu bilang "Yu, ngapain deh lo rela berjam-jam ngerjain tugas yang bukan tugas lo tengah malem?". Waktu itu sih saya ngga dengerin dia, dan temen saya pun tau saya ngga dengerin dia dan berakhir dengan kata-kata "Yaudah lah lakuin aja yang membahagiakan lo"
Beberapa bulan kemudian, entah mengapa it hits me kayaknya saya dimanfaatin deh. Rasanya seperti you just wake up and decide to delete everything. Intinya akhirnya saya mulai bodo amat dan benar-benar cool banget kalo ketemu si doi kampus (atau setidaknya saya pikir saya udah bertindak cool).

Inget-inget dulu pernah kayak gitu geli juga. Saya bisa merelakan jam tidur saya, energi, pikiran, dan menurunkan standar saya dengan harapan dia suka sama saya. Bahkan teman saya pun kadang masih suka teasing saya dengan kalimat "Ih Yu, ga nyangka lo dulu pernah suka sama X rela sampai jam 3 pagi ngerjain tugas yang harusnya lo ngga perlu ikut campur"
Saya sih cuma gomes (Baca: Goblok mesam-mesem) sambil geli sendiri ingat masa-masa, kehilangan logika itu.

Nah, yang menjadi garis merah di sini adalah orang bisa kehilangan logika karena cinta. Lucunya orang bisa rela berantem mati-matian sama keluarganya, temannya cuma buat ngebelain si dia yang dia kira belahan jiwa whatsoever-nya itu. Sedangkan menurut saya, cinta itu adalah menyetarakan antara logika dan hati. Kalau dipikir dengan akal sehat doang memang ngga cukup, kalo emang suatu hubungan damaging logic doang masih dipikir pakai hati begitu juga sebaliknya. Tapi, kalo udah damaging between your heart and logic, maybe it's time to quit. 

Gampang sih Yu kalo ngomong doang,


Iya memang, saya pernah dengar cerita si dia rela mati-matian gets in trouble buat pasangannya itu. Kalo saya yang ngeliat itu saya bisa bilang "Gila kali ya lo, mati-matian buat pacar lo" tapi saya ngga tau ternyata ada masalah perasaan dibalik semua itu.
Intinya,
kalo menurut saya, cinta itu masalah timbal balik, you love and you should feel loved. Semacam simbiosis mutualisme gitu lah. Kalo menurut saya itu yang terpikir saat ini dikala saya sedang tidak dimabuk cinta dengan siapapun.

Jadi, selamat bermain dengan logika!

Thursday, September 29, 2016

How Many Friends Is Too Many?

Beberapa tahun lalu, saya duduk di suatu tempat makan bersama teman saya dan terjadilah percakapan seperti ini:

X: Sebenernya manusia itu makhluk sosial untuk apa sih, Yu?
A: Hmm, buat networking? Jadi, kalo misalnya lo butuh apa-apa tinggal minta tolong si A, si B, si C.
X: Tapi, kan toh nanti pada ujung-ujungnya kita akan sendirian, skripsi sendiri, cari kerja sendiri, matipun sendiri.
A: (not sure what to add here)

With her it's always deep conversation at some point.

Waktu itu saya masih semester muda, belum menyentuh skripsi, apalagi masuk dunia kerja. Fast forward ke diri saya sekarang lama-lama saya pun jadi berpikir. Buat apa punya temen banyak kalo ternyata ujungnya kita grogi untuk minta tolong. Saya punya prinsip, akan menolong asal tidak malah menyusahkan diri saya sendiri. Ketika saya sudah menolong si A atau si B atau si C, suatu hari ternyata saya punya kesulitan dan malah ragu untuk minta tolong si A atau si B atau si C itu dengan sejuta alasan seperti "ah nanti ngerepotin", "ah nanti dikira clingy" akhirnya saya jatuh bangun sendiri dan menolong diri saya sendiri. Padahal mungkin jika saya berani minta tolong si dia, kesulitan saya bisa lebih mudah, dia pun bisa aja rela-rela aja nolong saya.

Balik ke pertanyaan How Many Friends Is Too Many? 

Saya punya temen dari saya SD, SMP, SMA, Kuliah, sampai saya sekarang kerja. Teman organisasi ini, teman ketemu di sini, teman ketemu di situ. Tapi, ketika saya ada kesulitan dan mau minta tolong. Atau lagi gelisah dan mau numpang cerita, sayanya kurang nyaman (atau dianya malah juga jadi kurang nyaman sama saya <?>)
Setelah saya pikir matang-matang dan mendalam, ternyata bisa dibilang kebanyakan orang yang saya kenal itu adalah acquaintance

acquaintance [noun]

uk /əˈkweɪn.təns/ us /əˈkweɪn.təns/
 a person that you have met but do not know well 

Jadi, dari sedemikian orang yang saya temui dan gadang-gadang itu teman saya. Ternyata saya juga ngga kenal-kenal banget sama mereka. 
Ternyata semakin saya besar saya jadi semakin menyadari omongan teman saya di tempat makan itu betul juga. Ujung-ujungnya buat apa punya temen banyak kalau ternyata  
after a long hard day at work you still feels lonely at night?  

Buat apa punya teman banyak kalau ternyata ketika kita sulit dan mau minta tolong dia punya sejuta alasan? Buat apa punya teman banyak kalau ternyata menyadari tidak ada yang bisa menolong kita selain diri sendiri?

Dont get me wrong,
i'm not being cynical

Belakangan ini saya sering merasa sepi. Bukan sepi secara harafiah sih, sepi perasaan.
Habis tertawa, main, dan makan dengan teman SMA saya, ketika pulang saya berasa hampa.
Atau ketika berada di suatu kelompok yang ramai dan berbicara ngalor-ngidul 5 menit kemudian berasa hampa.
Akhirnya, sekarang saya keeping my inner circle small, surrounded with beautiful mind, wonderful heart, and good people. Akhirnya, ketika saya punya teman sedikit, gampang juga ketemu teman pikiran yang sejalan pikiran dengan saya, sedikit drama, mudah dihubungi dan bisa diandalkan.
Jadi, kenapa kita harus punya segudang teman?

ternyata beberapa orang dengan wonderful mind with align way of thinking is enough
 

Saturday, August 20, 2016

Introduction

Yolo,


Forgive my tacky first post. But i thought it will be nicer if i make my first introduction post. Years ago once i had a blog, but i removed since it has lots of wheeny whiny post :p

So, this one i want to give more theme in it. Hope it will works!

Cheers,


Ayu Handayani