Thursday, July 5, 2018

Letter to Mama

After i spent 80 hours course of Spanish lesson, last weekend i went through an exam. The question is simple, i had to make a letter to my mama that i am at my friend's house and doing fine. I studied lots of words, i memorized all kind of sentences, yet somehow my brain didn' t work out well during exam. So, i tried to write it again with very less to no peeking through my notebook and Google Translate.
Hola Mama,
 ¿Que tal esta? Yo he vivido en Prita casa desde dos semana pasada. Prita casa esta grande y bonita. Su familia esta buena. Yo me he desayunado con un pan y una cafe ayer por la maƱana. Yo me he caminado a la ciudad he visto paisaje todo el dia. Despues Prita ha introducido con su amigo, Carlos. Carlos tiene lo el piel de morenos, los ojos de cafe, y los canellos de negro. Nosotros hemos nadado en su grupo. Todas esta Prita cumoelaƱos. Yo y Carlos dado los regalos para Prita. Prita parece feliz. Ok Mama, ahora voy a la cama. Hasta la proxima.
 Un beso,
 Ayu

 I wrote this just to feed my ego, anyway :p

Wednesday, June 20, 2018

Thought About Love

Dulu saya pernah entry post tentang bicara cinta.
Sebenernya cinta tuh apa sih?

Karena dari dulu saya seneng banget nonton film cinta-cintaan dan baca novel teenlit dan chicklit. Jadi waktu kecil saya pikir cinta itu adalah ketika ada laki-laki ganteng yang naksir kamu apa adanya kemudian bahagia selamanya tanpa ada gangguan apapun.
It is actually nicer if we simplify into that meaning.

Orang kalo jatuh cinta sering melakukan yang saya sendiri suka amazed. Saya sendiri pernah pergi ribuan mil atas dasar cinta. Saya cuma tidur 2 jam karena ngobrol ditelpon aja saya udah bahagia. Langit terasa lebih biru, mundane activity seems easier. Ini kasusnya saya ya yang jatuh cinta, orang tersebut nggak jatuh cinta sama saya. Bahkan pura-pura nggak tau saya cinta sama dia. Saya tadinya nggak masalah sih, karena saya selama ini selalu meromantisasi cinta bertepuk sebelah tangan.

I thought, if i listen to his story everyday, do a little bit more, lowering my ego, maybe he will realized how big my love is. Tapi sesungguhnya tai kucing dengan definisi cinta yang begini. Romantisasi cinta bertepuk sebelah tangan jadi terlihat klise dan konyol. Karena saya juga nggak punya standar akan bagaimana harusnya saya diperlakukan. Saya jadi kayak orang bego kalo inget-inget pengorbanan saya.

Growing up fatherless, i much think myself maybe i have attachment issue. Saya juga jadi nggak punya standar arti cinta itu. Kakek saya meninggal ketika saya umur 4 tahun (probably, can't remember well :p). Ayah saya meninggal ketika saya masih bayi, ibu saya sempat menikah lagi, tapi pernikahannya gagal. Kakak saya pernikahannya juga gagal. So, it seems love doesn't work in my family. Saya jadi terbiasa ngapa-ngapain sendiri dan saya juga nggak ada masalah sih. Cuma saya jadi nggak punya standar apa arti cinta sebenarnya. Saya sendiri jadinya mengobatinya dengan holiday fling. Holiday fling is nice, but it is only temporary. Lagi seberapa kuat sih saya ngapa-ngapain nggak pake feeling. Sekali saya kena holiday fling galaunya nggak ilang-ilang, sampe 3 bulan pasca liburan saya masih kebayang-bayang. Orangnya sih juga mungkin udah lupa sama saya.

Anyway, going back to my definition of love, i once heard or saw it maybe in a books or movies. Ada pasangan yang udah dimabuk asmara semabuk-mabuknya sampe ngomong gini "I love you so much, i can't live without you. I don't know what will i do without you". Kalo saya denger ada yang ngomong gitu siapapun, saya jadi kasian. Pertama, cinta begitu nggak sehat. Kedua, romantisasi kayak begini dari film dan buku sesungguhnya memuakkan yang ngebuat saya jadi kasian.....bukan kasian sama yang ngomong, saya kasian sama orang yang diomongin gitu.

Personally i think love is not about pitiful, and i think some people mistaken that. Ini sumpah sedih banget. Saya sendiri punya temen, yang definisi cintanya kayak begitu. Dia jadi nggak berani mutusin karena takut pacarnya nggak mau makan, nggak mau kerja, nggak mau hidup, depresi. Both looks suffer, but they both have each other consent, so ok. Menurut saya cinta begitu kekanak-kanakkan, out there Trump meeting Kim Jong Un discussed about nuclear and marked as historical journey of all times and there you are sobbing over your sad sad love story. Konyol aja gitu jatohnya dan tentunya kalo saya punya temen begitu, saya langsung cut dari hidup saya.

In this finding definition of true love, in the middle of my confusion about love. I don't know who read this post, somebody, anybody really, i wish you found the meaning of your love. And may God leads you to your true love. Hey, maybe your true love could be in Arctic, dogs sledding and petting his wolves. Who knows?

Going Solo

Pernah suatu hari saya ditanya sama temen saya ketika saya baru pulang liburan sendirian
"Yu, lo ngga takut jalan-jalan sendirian?"
Jawabannya......"enggak"

__
Saya inget pertama kali saya melakukan sesuatu sendiri itu adalah ketika saya masih SMP dan saya harus beli baju batik untuk buku tahunan sendirian. Bukannya nggak dibeliin sama ibu saya waktu itu, justru ibu saya udah beliin saya baju batik. Nah tapi karena dulu waktu remaja saya anaknya rebel dan entah mengapa waktu itu saya sering nggak tau terimakasih, bukannya saya "terimakasih" alih-alih saya bilang "jelek banget...nggak mau pake". Akhirnya ibu saya bilang, yaudalah terserah kamu, cari sendiri sana.

Dari situlah perjalanan saya beli baju sendiri, terus potong rambut sendiri, nonton film bioskop sendiri. Saya bukan introvert yang kutu buku, bisa mengeluarkan fakta-fakta jenius, dan being actually good on something. Saya justru hiperaktif dan saya suka ketemu orang baru (ketemu orang baru ya, tapi saya kurang suka buat temen baru :p)
Saya suka ketemu orang baru karena somehow lebih enak aja gitu kalo cerita, karena sebenernya saya suka merasa udah tau aja gitu apa isi kepala orang-orang di sekitar circle saya. Sotoy sih, but true. 

Liburan pertama sendiri saya waktu itu ke negeri tetangga. Deket sih, dan ibu saya juga nggak khawatir karena tau saya anaknya emang udah suka solo.

"is it fun?" "not necessarily, sih"
Seenak-enaknya jalan sendiri, menurut saya akan lebih enak kalo liburan paling enggak berdua. Dibilang fun ketika saya pergi ke amusement park aja, ada jalur sendiri, lebih cepet, saya bisa teriak sepuasnya, nggak perlu nungguin siapa-siapa kalo lagi pengen lari-lari.

Saya suka sendirian, tapi saya suka kesepian. Saya inget, waktu liburan sendirian, saya jalan ke tamannya Mall Suria KLCC, terus saya duduk sambil mikir "ini ngapain ya saya sendiri ke sini."
Atau waktu saya ke Pakistan
"Gila saya ke Pakistan sendirian. Ngapain dah?"
Saya duduk ngeliatin air mancur, dan orang yang jalan-jalan sambil selfie. Waktu itu saya mikir "Ih sekarang hari Senin dan saya malah duduk-duduk di sini sedangkan temen kantor saya lagi kerja" he he.

How to cope up with loneliness when you abroad 101
Ini rada gelay sih, tapi beneran deh, saya sering dealing with loneliness ketika liburan. Most likely karena bosen sih. Terus saya langsung ngelurin smartphone saya dan go to Tinder atau Couchsurfing. Entah mengapa saya nggak ada ketakutan gitu ketemu orang di internet. Karena saya mikir.....ya etika kopdar saya cari yang tempatnya rame jadi kalo kenapa-kenapa ada banyak saksi mata. I know people in Tinder do it mostly for hookups tapi saya cuma mau nyari temen jalan aja. Ya sukur sukur hit it off.

Banyak yang bilang gila banget ketemuan orang dari internet. Kayaknya saya udah ditahap, cmon its 2018, semuanya udah serba digital. Entah mengapa saya juga selalu merasa semua orang itu baik, jadi saya bener-bener jadi fearless gitu. Saya ngga tau sih pikiran ini bisa harming me atau enggak. Tapi ya begitu adanya. Intinya sih jangan ngarep aja gitu ketemu jodoh ketika lagi kopdar dari kedua aplikasi tersebut. Sukur-sukur dapet, kalo enggak ya yaudah.

Jadi kesimpulannya, setelah years of going solo and my inner circle also doing all the same, so i think it's normal thing to do. One thing for sure, it is better for going solo than bad companion. Seriously, bad companion sucks. Do yourself a favor and do it solo.
Nggak usah takut ngapa-ngapain sendiri karena toh pada akhirnya kita juga akan mati sendiri. Deep but true ;)

Monday, June 18, 2018

When In Pakistan: Jalan-Jalan ke Pakistan, Apa yang Perlu Disiapkan?

Bulan lalu (Mei, 2018) saya baru saja jalan-jalan ke Pakistan. Banyak yang bilang destinasi saya untuk jalan-jalan ini memang nggak biasa. Latar belakang saya datang ke negara ini adalah well....um i have internet friend for years, jadi ya penasaran juga sama beliau dan saya mau mengunjungi Gilgit (cek sendiri ya). Pakistan memang bukan negara yang umum untuk dikunjungi, jadi kalau memang berniatan untuk ke sana, saya kasih tau ya it is actually more complicated than the rest of other country, tapi berhubung saya memang suka melakukan hal yang ribet sampe akhirnya kelar itu memberikan kepuasan untuk saya sendiri, saya akan coba untuk simplify caranya. Here we go,

1. Siapin Visa
Dari semua persiapan untuk liburan ke Pakistan, langkah pertama ini emang sedikit ribet. But, don't let this little thing ruined your vacay. Kalo mengunjungi website embassy Pakistan, emang nggak ada informasi konkret tentang apa aja yang perlu disiapin untuk visa, udah gitu interface websitenya cenderung tua :") jadi emang harus pake effort buat email sendiri ke kedutaannya. Untuk memudahkan bapak, ibu, adik-adik sekalian, maka sekalian saya share di sini biar bisa buat checklist-nya sendiri:

  1. Passport yang masih valid sampe 6 bulan
  2. 2 pcs foto ukuran 3x4 background biru
  3. Invitation letter (ini saya jelasin lebih lanjut)
  4. Bank Statement (no less than 1,000 USD)
  5. Fee-nya Visit/Family/Friend Visa Single Entry IDR 700,000 and Double / Multiple Entry IDR 1400,000. Business / Work Single Entry IDR 950,000 and Double / Multiple Entry IDR 1,900,000/- (visa fee is non refundable) yang dibayarkan di bank Danamon The East.
  6. Permission letter (for women only)
Semenjak 2018 ini, pembuatan visa ke Pakistan udah nggak perlu pake SKCK dan processing days-nya 7 hari.

How to get Letter of Invitation? 

Kalo kamu kenal temen kamu atau siapapun yang ngundang kamu ke Pakistan yang buatin Invitation Letter itu bagus. Karena nggak kena fee apapun. Tapi, sesungguhnya siap-siap ditanyain sama petugas embassy yang orang Pakistannya kayak "kenal dimana?", "dia siapa?". Dan petugas orang sana aslinya lil bit rude ketika nanyanya juga, ngga ngerti kenapa sih? Atau mungkin karena banyak oang Indo yang kenal via internet untuk ke Pakistan jadi dia rude? Tapi, harusnya sih bukan alesan juga dia rude. 

Kalo kalian belum pernah ketemu orang yang mau sponsorin kalian karena kenal dari internet, ini emang ribet banget dan pihak embassy biasanya nggak mau nerima affidavit dari orang yang kalian belum kenal pasti. Affidavit ini adalah LOI dari notaris terus orang ybs harus minta dari notaris di Pakistannya langsung. Hmm ribet kan? Dan kedutaan maunya yang original (bukan scan).
Nah, karena saya nggak mau ribet dan menghindari banyak pertanyaan, jadi saya buat LOI via travel agent sana (bisa cek Lost Horizon Tour) dengan fee 100 USD yang bisa ditransfer via Paypal. 100 USD untuk secarik kertas emang mahal sih ya. Oiya, nanti embassy-nya juga akan nelpon langsung sponsor kamu yang ngasi affidavit itu jadi nggak bisa tipu-tipu ya.

Permission Letter
Sebagai salah satu negara yang menganut patriarki, untuk turis perempuan yang traveling ke sana sendirian harus minta surat yang ditandatanganin oleh orang tuanya atau suaminya (kalo udah berkeluarga).

2. Beli Tiket
Hal paling menyenangkan buat saya ketika merencanakan liburan adalah membeli tiket pesawat. Saran saya, juga jangan beli tiket pesawat dulu sebelum visanya di granted. Kamu bisa buat dummy ticket via tour agency. Saya nggak tau sebenarnya praktik ini legit atau enggak. Tapi, sesungguhnya dummy ticket itu banyak digunakan untuk apply visa ke banyak negara. Daripada tiketnya angus karena nggak dapet visa ya kan :")

Saran saya, untuk beli tiket ke Pakistan, bisa cek di Skyscanner untuk dapat harga terbaik, terus mending beli tiketnya dari Malaysia ke Pakistan. Karena kamu bisa hemat ratusan ribu sampai 1juta. Nah dari Jkt-Malaysia kan ada banyak tiket promo murah. Kalau tujuan kamu ke Islamabad. Mending kamu cari tiket yang ke Lahore daripada langsung straight ke Islamabad karena lebih murah. Nanti kamu bisa naik bis ke Islamabad. Harga tiket ke Lahore dan Karachi cenderung lebih murah, jadi sebisa mungkin kamu ngga perlu langsung ke Islamabad. Saya sendiri waktu itu naik Thai Airways dari KL-Lahore. Dan naik AirAsia dari Jakarta-KL, total kira-kira habis Rp5juta-an.

3. Buat Itinerary
Mungkin ketika kamu ke Pakistan ketemu temen kamu atau pacar kamu, kamu berharap untuk diajak jalan-jalan sama beliau. Tapi, selalu inget kalo always prepare for the worse. Saya sendiri walau dibilangin sama temen saya kalo saya nggak perlu buat, saya tetep buat list tempat-tempat apa aja yang mau dikunjungin. Mungkin nggak perlu rinci kayak travel agent, tapi di list aja tempat-tempat yang kamu mau datengin in case temen kamu ninggalin kamu. Oh ya, di Lahore dan Islamabad ada Uber dan Careem (Konon locals use this more), jadi kamu nggak perlu takut bingung transportasi. Careem memang lebih costly dibandingkan Uber, tapi karena mobil-mobil di sana somehow keliatannya mewah tapi karena kotor karena debu jadi keliatannya usang aja gitu.

Waktu itu saya kepingin banget pergi ke Gilgit, tapi karena cuaca di sana lagi nggak bagus jadi saya nggak sempet ke sana. Jadi, saya ke Gujranwala, Lahore, dan Islamabad. Saya nggak rekomen ke Gujranwala sih karena there is not much you can do there. Karena saya tipikal anaknya yang cepet bosen dan haus akan entertainment saya bener-bener mati gaya ketika di sana.

4. Respect The Locals
By respect maksudnya kamu perlu banget berasimilasi untuk pake baju ala-ala sana gitu. Kalo niatan beli di sini, bisa cari yang model tunik gitu, yang panjang bajunya nutupin area bokong. Jangan lupa bawa pashmina. Just wrap it around your neck. Sebenernya saya juga bukan tipikal yang suka baju-baju panjang gitu, tapi karena di sana jarang turis dan people will stare at you for like 10 secs (ini lama lho), jadi mending pake baju yang sopan. Pake jeans sebagai bawahan juga nggak apa-apa kok.

5. Where to Stay?
Ketika saya di Pakistan saya sempat tinggal di Gujranwala dan Islamabad di rumah temen saya. Hampir sama kayak di Indo mereka baik banget ketika ada tamu dan mereka seneng banget sama turis, jadi mereka akan banyak tanya tentang negara kamu. Bahkan mereka nanyain kamu paling suka makanan apa dan biasanya abis itu mereka masakin :""") terharu banget sampe nggak enak minta yang aneh-aneh.

Kalo kamu nggak bisa living with the locals. Guest house di sana juga murah kok kamu bisa cek di Jovago atau Booking.com untuk cek harga guest house. Waktu itu saya sempat tinggal di Shelton Guest House di Islamabad.

6. Cash Come in Handy
Pakistan nggak kayak Indonesia yang semuanya serba elektronik. Mereka lebih seneng pake cash. Bayar hotel pun kamu perlu uang cash. Kecuali di mall, kamu bisa pake kartu kredit dengan logo VISA atau Mastercard. Pake debit card juga bisa asal ada dua logo tersebut. Saran saya, kamu bisa tuker uang USD dulu dari sini, terus kamu bisa tuker di money changer sana. Atau kalo kamu nggak mau ribet kayak saya, kamu bisa tarik tunai di ATM sana tapi siap-siap kena charge ya. Jadi mendingan sekali kamu tarik sekaligus dalam jumlah besar.

7. Stay Safe
Sebenernya ini panduan ke semua negara sih. Di Pakistan konon harga senjata itu murah, jadi saya sering banget ngeliat satpam KFC aja bawaannya senjata laras panjang gitu hmm. Waktu itu saya juga nggak sempet untuk naik transportasi umum jadi saya nggak bisa cerita gimana transportasi umum di sana.
Karena waktu itu saya berniatan ketemu temen saya dari internet, jadi saya notif temen saya lainnya dari AIESEC kalo saya saat itu lagi ada di Pakistan dan saya mau hangout ke sini, ke sini. Saya juga menyarankan untuk jalan-jalan dengan lokal sih daripada sendiri, karena seperti layaknya negara lain, mereka suka mahalin harga gitu ketika ngeliat turis. Yaa tipikal etika kopdar, ketemuan di tempat umum. Oya, karena Pakistan itu negara islam, sebenernya men and women can be seen together, bahkan ada banyak yang pacaran juga. Tapi, kalo pegangan tangan itu sebenernya nggak forbidden sih, tapi frowned upon aja. Apalagi pelukan. Oh ya, karena saya masih ngebawa budaya Indo kalo bilang makasih itu salaman, sama siapa aja nggak peduli gender. Nah, kata temen lokal saya, kalo di sana, men and women never touch hand. Jadi, bilang sukriyah atau thank you aja cukup.

Oh ya, jangan lupa untuk belajar basic urdu seperti "terimakasih", cara naik taksi, dan cara nyari arah. Waktu saya tanya itu ke temen saya, temen saya merasa saya nggak perlu nyari tau caranya. Tapi karena saya anaknya prepared for the worse banget, saya cari di internet dan saya tulis di buku notes saya. GPS juga sangat berguna di sini, apalagi untuk kamu yang anaknya gampang tersesat kayak saya.

 __
Pada dasarnya saya seneng banget bisa ke Pakistan karena cuma sedikit orang yang jalan-jalan ke sana. Bahkan cari info visa di internet aja tadinya susah.  Makanan di sana juga enak-enak dan porsinya super gede :D kalo di sini bisa makan 2 orang 1 piring. Saya juga kangen dengan orangnya yang baik-baik. Will i be back? Probably after a few years, karena saya belum sempet ngunjungin Gilgit waktu ke sana. Sebenernya image yang dibangun dari media itu seolah Pakistan negara konflik, penuh dengan teroris, dan nggak aman.

Tapi sebenernya negara ini aman kok, image teroris di sini karena waktu itu Osama Bin Laden sembunyi dari AS di Abottabad, jadi satu Pakistan kena imbasnya. Percayalah bahwa tentara sana pun juga memerangi teroris dan taliban. Ketika di sana, biasa-biasa aja kok. Selamat jalan-jalan!




Wednesday, January 18, 2017

Will Life Getting Easier?

Nope. Never.
Hal yang saya tahu selama 23 tahun saya menjalani hidup ini. Life is never getting easier. Selalu aja ada masalah kehidupan yang akan datang. Kalau saya lihat kebelakang selama 23 tahun saya menjalani hidup ini, ternyata permasalahan hidup yang dulu saya pikir berat banget dan saya sempat berpikir "Bisa ngga ya, saya menjalani hal ini?" bahkan ngga ada apa-apanya dengan permasalahan hidup saat ini. Tapi, ada beberapa poin yang saya pelajari selama 23 tahun saya menjalani hidup ini.


  1. Happiness is state of mind. That 'soto' around the corner might be tasty and it makes you happy. That package that you sent yesterday to yourself makes you happy. Ranting about your whole problem to the right person at 2 am makes you happy. Laying in bed while watching Orange Is The New Black turns out....makes you happy.
  2. You can be single and still feels heartbreak.
  3. Mom is always right. Seriusan deh. Ini penting. Bahkan ketika saya keukeuh dengan hal yang pikir hal itu benar. Ternyata ujung-ujungnya ibu saya yang betul. Saya ingat waktu kelas 10, saya ikut organisasi Pecinta Alam. Suatu hari, organisasi saya mengadakan pelantikan anggota di gunung. Kebayang dong kayak apa suasana mendaki gunung. Waktu itu saya berikan proposalnya ke ibu saya dan beliau langsung menolak mentah-mentah saya untuk ikut kegiatan tersebut. Saya keukeuh saya bilang saya betul-betul suka dengan organisasi saya tersebut dan saya (pikir) saya bisa menjadi pecinta alam. Sampai akhirnya, saya betul-betul ngga ikut organisasi tersebut dan beberapa tahun kemudian saya baru sadar saya juga bahkan ngga cinta-cinta amat sama alam :p
  4. Family will always got your back. Ingat-ingat kapan terakhir kali gaji saya cepat habis atau keputusan-keputusan bodoh yang saya ambil, keluarga saya selalu ada di belakang saya untuk mendukung keputusan-keputusan bodoh saya yang lainnya.
  5. Teman ngga perlu banyak-banyak. Yang penting selalu ada 24x7, selalu bisa mendukung di tengah keputusan-keputusan aneh saya yang questionable, sama jalan pikiran dan bisa menginspirasi.
Lets be tougher, stronger and better this year. Maybe take things and pressure easy this year?

Friday, January 13, 2017

Adult-ing

Sulit. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan bagimana menjadi orang dewasa. Walaupun sebenarnya saya belum benar-benar memiliki banyak tanggung jawab. Tapi, percayalah dengan tanggung jawab seperti sekarang saja sudah cukup berat. Salah satu hal yang membuat saya merasa dunia dewasa adalah berat, sebenarnya menurut saya karena transisi dari anak kuliahan ke orang dewasa. Dari yang kuliah jadwalnya saya yang menentukan, bangun siang, ketemu dosen kalau lagi mood, baru bisa tidur jam 5 pagi, kalau dipikir sekarang ingin rasanya kembali ke masa itu.

Sayangnya, berlama-lama kuliah juga tidak menyelesaikan masalah. Memperlambat masa studi juga bukan masa jaminan akan bisa lebih matang dan sukses ketika di dunia kerja. Yang ada malah jadi ketuaan ketika melamar kerja. Karena di dunia kerja banyak yang lebih muda dan lebih pintar. Nah lho.

Banyak sekali hal-hal yang sulit yang saya temui ketika di dunia dewasa ini. Mengatur uang, mengatur waktu supaya bisa santai di weekend (penting dong :p), pertemanan, karir, dan jodoh. Ternyata hal-hal yang saya kira saya suka bahkan saya baru sadar bahwa saya tidak suka. Payahnya, mungkin dulu saya tau saya tidak suka tapi saya belum berani men-declare saya tidak suka. Kalau sekarang, akhirnya saya lebih berani untuk tidak melakukan hal yang tidak suka karena prinsip saya don't waste time for something that you don't like.

Sayangnya terkadang saya masih sering bingung apa saya tidak suka sesuatu memang saya bosan atau memang sudah dari sananya saya tidak suka. Apapun alasan di balik itu, intinya saya sering sekali menemukan sesuatu yang ternyata saya tidak suka (yucks!). Bukan cuma menyadari hal yang tidak saya suka. Di usia saya yang 23 ini, akhirnya saya menyadari bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa kita dapatkan walaupun kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Seperti perasaan orang lain ataupun pekerjaan. Rasa pesimis mulai menjangkiti diri saya, quotes-quotes mulai saya anggap bullshit, tapi kehidupan positif masih berusaha saya pegang.

Sulit memang menjadi dewasa, mudah-mudahan saya bisa semakin tegar menjadi kehidupan dewasa ini hehe ibu saya masih menjadi inspirasi buat saya pokoknya.


Here is to the strong women
may we know them,
may we be them,
may we raise them.

Cheers,


Ayu Dewi Handayani


Wednesday, January 11, 2017

23 Hal yang Perlu Disyukuri

Alhamdulillah saya sekarang sudah 23 tahun yaaay! The perks of ulang tahun ketika akhir tahun adalah mulai tahun baru jadi bisa ngeset goal sekalian untuk tahun ke depannya. Tahun kemarin rasanya saya sering ngeluh (siapa sih yang engga?) Tapi maksudnya ini udah di atas batas normal gitu hehe. Jadi, sekarang saya mau nge-list hal-hal yang perlu disyukuri.

  1. Keluarga. Cannot thankful enough my family still be #1 support system. Hopefully always are and always will. Begitu banyak keluhan yang akhirnya keluarga jadi kena imbasnya dan untungnya keluarga saya masih bisa banget ngasih saya masukan-masukan yang berguna dan selalu ngedukung saya (walau kadang emang salah saya :p)
  2. Teman tersayang. Mesti banget pakai kata tersayang. Saya juga ngga tau sih persahabatan itu sampai kapan batasnya, tapi saya sangat-sangat bersyukur saya punya circle-circle yang positif dan selalu menghibur saya. Dan yang paling penting mendengarkan tanpa menghakimi (penting dong!)
  3. Pekerjaan saat ini. Kalau saya pulang malam kadang saya suka melihat ada abang-abang di stasiun masih jualan, jaga parkir, bawa-bawa dagangan berat. Meskipun saya lelah tapi akhirnya bersyukur punya kerjaan tetap, duduk di AC, dan ketika mereka masih kerja saya sudah tidur-tiduran di kasur.
  4. Popcorn Time dan situs streaming lainnya. God bless all the inventor of this server so i can go streaming and chill. Saya ngga perlu download film dan nunggu lama untuk nonton. This include website langganan download film saya.
  5. Buzzfeed Unsolved Mysteries. Thanks to Ryan Bergara yang membuat saya bisa enjoy makan siang di meja sambil nonton ini. God bless you, man! Salah satu harapan saya di 2017 adalah neverending buzzfeed unsolved mysteries :D
  6. Fun Meme di Instagram. Waktu awal saya buat Instagram purpose saya cuma mau enjoy yang lucu-lucu aja di feed tanpa perlu komen "duh dia hidupnya enak banget sih" dan saya senang banget ketika jam 1 pagi scrolling akun Instagram nochill atau beigecardigan atau daquan dan ada sesuatu yang super lucu dengan sedikit dirty innuendo.
  7. Good deeds di feed Facebook
  8. Ketika tidur terus kebangun jam 2 pagi dikira udah mau Subuh
  9. That soto around the corner
  10. Makan soto sendirian (Solitude is a bliss)
  11. Habis makan soto jajan es krim di Alfamart
  12. Ternyata uangnya masih cukup buat beli Kiyora Matcha Green Tea
  13. Video lucu di feed Facebook dan feel related
  14. Ketemu kucing gendut dan dia mau dielus-elus (Nomnomnom!)
  15. Minta uang ke Ibunda iseng untuk jajan MCD dan dikasih (YAY!)
  16. Prosperity burger setelah 23 tahun :')
  17. Last minute ajak teman untuk main dan dia bisa (!!)
  18. Menemukan artikel bagus di Thought Catalog
  19. Menemukan section astrologi di Thought Catalog
  20. Sabtu siang bisa dengan chill nonton Orange Is The New Black
  21. Ke Malang (it's always fun to be back to Malang)
  22. Di perjalanan menuju main di hari Jum'at (Byeeee worrrk :p)
  23. Dapat tempat duduk di Kereta
Ternyata setelah poin ke-enam saya keburu malas menuliskan panjang-panjang dan akhirnya bisa nge-list banyak hal yang bisa disyukuri. Intinya sebenarnya ada soooooooooooo much things to complain tapi tergantung mindset kita mau membuat itu masalah atau engga. Ya mudah-mudahan aja saya juga masih bisa bersyukur untuk selanjutnya.






With love,


Ayu Dewi Handayani